Wajah Hutan Tua di Sudut Pegunungan Baturagung

Ekspedisi Biji-Bijian Wonosadi 2012-2013, Pegunungan Baturagung, Gunungkidul
Text and Photo by Wisnu Wisdantio
Published as article at www.landscapeindonesia.com (visit for better quality of pictures)

14 Oktober 2012, sekitar jam 05.30 pagi waktu Wonosadi

Pagi masih muda ketika segaris sinar menembus rapat dedaunan tepat menampar pelupuk mata, membangunkanku dari lelap. Gemerisik dedaunan kering terusik geliatku meregangkan sendi-sendi kaku semakin meramaikan ruang dengar yang telah dipenuhi celoteh burung-burung dikejauhan. Tanah lapang berselimut guguran daun dan beberapa pohon Munggur tua bertajuk lebat menjadi imaji pertama tertangkap mata.

Tak jauh dari sisa-sisa api unggun, hangat seduhan kopi instan kembali hadirkan penelusuran jalanan setapak kering berbatu semalam dalam benak. Perlahan 15 orang mengular melangkahkan kaki penuh kehati-hatian mencari pijakan karena bebatuan mudah terlepas di tanjakan terjal perbukitan desa Beji. Sesekali gelak tawa terdengar mengusir sepi diantara dengus nafas tersengal karena otot-otot malas yang dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya. Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, tanah lapang menyambut dalam selimut malam. Namun, gelap terasa jauh lebih pekat tanpa kehadiran bulan di langit, bahkan geliat api unggun pun hanya mampu sedikit memperlihatkan bayang segaris sillouete pohon raksasa dan sebagian kecil hamparan puncak hutan adat ini. Hingga mata ini tertutup dalam lelap pun, malam hanya mengijinkan kami menikmati celoteh beragam serangga dan geram burung Pungguk dijauhan.
Bias pagi semakin memaparkan gurat-gurat puncak hutan adat seluas 23 hektare ini. Beberapa pohon Munggur (Javanese tamarind) raksasa berusia ratusan tahun yang batangnya tak bisa dipeluk bahkan oleh rentangan tangan 4 orang dewasa sekalipun, berdiri diam menopang tajuk dedaunan saling menjalin erat, membuatku bagai duduk di balik kubah raksasa penuh warna menghijau segar sejauh mata memandang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bila ini semua bisa aku saksikan hanya sejauh 43 km ke arah timur dari pusat kota Yogyakarta di salah satu sudut hamparan karts Gunung Kidul, kawasan yang sangat dominan dengan batuan cadas berkapur, hamparan tanah merah, dan tiang-tiang pohon meranggas. Belum usai merangkai jawaban untuk setiap pertanyaan dalam benak, dedaunan kering kembali bergemerisik terusik geliat beberapa teman yang mulai terbangun dari tidurnya dan tentu saja tak lama kemudian keheningan puncak Wonosadi pun seketika menguap tergantikan celoteh dan canda kami berebut sisa kopi dalam nesting alumunium.

*    *    *    *

Matahari tropis semakin garang memanggang setiap lekuk pegunungan Baturagung, menciptakan tiang-tiang cahaya menembus rapat tajuk dedaunan. Berlindung dibawah bayang sejuk kubah Wonosadi, kami mulai asyik mengusik setiap jengkal tanah sedikit lembab penuh kompos alami mencari butiran-butiran calon kehidupan vegetasi baru. Tak heran bila puncak hamparan hutan adat seluas 23 hektare ini dipilih menjadi tujuan Ekspedisi biji-bijian Wonosadi 2012 – 2013. Gurat Wonosadi memperlihatkan dirinya sebagai rumah alami bagi beragam varian pepohonan kayu keras maupun perdu liar, meski konon pernah mengalami kerusakan parah. Seperti halnya oase di tengah padang tandus Gunungkidul, ratusan pucuk-pucuk muda penerus kehidupan vegetasi tua tetap tumbuh meski di tengah musim kemarau sekalipun, membuat setiap cerita getir dera kekeringan kemarau panjang tahun ini di berbagai sudut pulau Jawa seakan menguap tanpa bekas. Tunas-tunas baru itu pulalah yang mengharuskanku lebih jeli memandang setiap langkah agar tidak menginjak salah satunya.

Kantong seedbank telah membuncit penuh beragam biji ketika riuh suara logam beradu terdengar ditelinga. Terpicu rasa tertarik, dahan kering teman selama penelusuran kutinggalkan begitu saja dan beranjak mendekati salah satu matras tempat seluruh hasil buruan dikumpulkan, dipilah-pilah dan didokumentasikan. Belum lama ikut memilah hasil penelusuran, tak jauh dari tempatku duduk, mas Dedy Irawan atau biasa dipanggil mas Tenjo telah asyik memainkan jummar di

tangan serta croll di harnessnya ber-SRT (Single Rope Technique) ria merambati Carmantel yang telah terikat kuat di salah satu lengan raksasa sang Munggur tua.
“Anggreknya diikat di tali biar bisa kutarik!” teriak mas Tenjo dari tempatnya duduk di atas dahan. Sigap teman-teman Mapala UPN dengan segera membongkar carrier dan mengambil sebagian tumpukan anggrek liar hasil pengambilan mas Tenjo dan mas Fehri Helta dari pohon inangnya di sudut lain Pegunungan Baturagung. Sejak keberangkatan semalam, memang sudah ada keinginan beberapa teman-teman untuk mengambil Vegetasi epifit yang konon sangat tahan dalam kondisi terkering sekalipun itu. “Daripada rusak dan mati karena pohon inangnya ad

a di pinggir jalan, lebih baik diambil dan ditanam disini, mungkin saja malah bisa tumbuh sehat nggak ada yang mengganggu,” teringat ucap mas Tenjo ketika kembali ke puncak Wonosadi tadi pagi.

*    *    *    *

Langit cerah terlihat bersih hanya terhiasi beberapa awan putih menggantung sejauh mata memandang hamparan lembah Wonosari. Tak terlihat sedikitpun tanda-tanda hujan akan kembali hadir, meski beberapa hari lalu rintik hujan telah mengguyur sebagian besar wilayah pegunungan Baturagung untuk pertama kalinya di tahun ini. Bagiku, hujan mungkin hanya sebatas fenomena alam ketika awan penuh uap air berkondensasi menjadi air yang turun kembali ke permukaan bumi. Namun bagi sebagian masyarakat Jawa yang masih memegang Pranoto Mongso (perhitungan musim) sebagai tata cara tradisional dalam mengelola hutan maupun mengatur pola aktivitas pertanian, hujan pertama kali dipahami sebagai penanda mulai berakhirnya musim yang disebut Mongso Kapat (Musim ke-empat) atau musim kering. Di musim ini jugalah tumbuh-tumbuhan secara alamiah akan melepaskan biji-bijian untuk menyambut musim Kalima yang akan dipenuhi dengan air yang menjadi salah satu penunjang kehidupan biji-bijian itu untuk berubah menjadi tunas-tunas pohon baru. Mungkin karena mengikuti perhitungan inilah ekspedisi biji-bijian kali ini di laksanakan tak lama setelah hujan pertama terjadi di Wonosadi, yaitu saat ketika biji-bijian akan banyak dan sangat mudah ditemukan. (Wow…. sebentuk komunikasi yang sangat harmonis antara manusia dan lingkungannya!!)

Seiring perputaran waktu, 15 frame foto dokumentasi jenis biji-bijian telah tersimpan dalam memory card, sampel biji-bijian pun telah rapi terklasifikasi dan terbungkus dalam Zipper Plastic Bag, peralatan SRT telah kembali rapi tersimpan dibalik carrier, dan sampah telah terpacking rapi untuk kembali dibawa turun dari puncak Wonosadi. Tak berapa lama kemudian perjalanan turun menjadi akhir ekspedisi kali ini. Jalanan setapak berdebu dan licin penuh guguran dedaunan kering kembali ditapaki selangkah demi selangkah. Pengambilan jalur yang berbeda dengan jalur keberangkatan ternyata masih juga belum memuaskan rasa penasaranku akan keunikan hutan di salah satu sudut pegunungan Baturagung ini. Beberapa keping biji jamblang atau biasa disebut duwet (Syzygium cumini) yang terjatuh disepanjang perjalanan tersimpan rapi di kantong celana, sebaris pengharapan dapat tumbuh dan kelak bisa kutanam di sepetak tanah yang akan kusebut rumah dapat selalu menghembuskan kearifan Wonosadi dimanapun kuberada.

Terima kasih untuk mas TB. Budiarto, mas Zaeni, dan Dedi Irawan atas jawilan dan ajakan untuk camping ceria di puncak Wonosadi… :D :D…. salam kenal buat teman-teman Tim panjat tebing Mapala UPN “Veteran” Yogyakarta yang sangat fasih memanjati pohon-pohon tinggi… :D :D …. dan tentu saja pasukan campingers ceria, Dik Titim, Mbak Duala, Mpok Icha, Bang Ucok, Bang Dolly, dan Mas Hara yang harus bertanggung jawab bikin perut kram kebanyakan ketawa…. :)) :))

Related Article:
Agenda kegiatan Ekspedisi Biji-bijian 2012 di Lifepatch Official Website (www.lifepatch.org)

Telusuri berbagai kisah perjalanan lainnya di:
Landscape Indonesia Official Website