Basic Travel Writing – Sharing With “Backpacker Dunia Jogja Jateng” Community

Community Gathering And Presentation Of Travel Writing
(2014)
___________________________________________

 

On the regular gathering of “Backpacker Dunia Jogja – Jateng” Community that was held in ACP Fruit and Coffee at 28 of June, I had a chance to make a small introduction about basic travel writing that I had been done with www.landscapeindonesia.com.

Within the sharing event, I talk about the basic definition of a travel journal, the easiest strategy to make small travel journal, research process during the trip, how to wrap all the experiences through travel journal, and then sharing it all in various methods such as made it as an e-book or small articles on an open-source articles website.

The presentation material

 

Referral sources for more detail information about the event:

Citizens Initiative On Environment Monitoring – unconference session presentation at the Camp Pixelache (Vartiosaari), Helsinki

Interdisciplinary Community Gathering Talk And Presentation
(2014)
___________________________________________

 

PA14_webflyer

Pixelache Helsinki (‘Pikseliähky’) is an electronic art and subculture festival that was being held in Helsinki since 2002. it has various programs, such as seminars, workshops, exhibitions, concerts and club events.

Since 2012, the festival themes have become quite diverse as well as the organizational of Pixelache. Pixelache Helsinki 2014 was an international 2-day trans-disciplinary event focusing on the theme of “The Commons”, including biocommons, urban culture and the kinds of knowledge about The Commons.

Adding a new island to its logbook after Suomenlinna (2011) and Naissaar (2013), Camp Pixelache will take up residence on Vartiosaari, a nature island surrounded by eastern suburbs of Helsinki, during 6-8th June 2014.

Myself became a participant on Camp Pixelache 2014 on the behalf of Lifepatch member and also represent the Hackteria International Community to disseminate the HackteriaLab 2014 – Yogyakarta event that was held on April 15 – 30, 2014. In the unconference session presentation at the Camp Pixelache, I get a chance to present Lifepatch research, mapping, and monitoring of the river in the JRP – Jogja River Project. Moreover, the presentation itself also contain with the dissemination of HackteriaLab 2014 – Yogyakarta event.

The Presentation Material
Became contributor at Camp Pixelache 2014: Remix the Commons video-mix

Remix the Commons is a collaborative and evolutive multimedia project. It aims at documenting and illustrating key ideas and practices of the commons movement, including the creative process of the project itself. During Camp Pixelache 2014 in June on Vartiosaari, Alain Ambrosi & Frédéric Sultan from Remix the Commons platform worked together with M-Cult,‘s Maria Candia and Kalle Kuisma to make recorded interviews & conversations with the Camp participants about how they defined the Commons, and about the gathering that was taking place.

Vartiosaari_2
Alain Ambrosi and his team from Remix The Commons documenting people sharing what the commons means to/for them, in their own language. Videos will be part of Define the commons project. http://www.remixthecommons.org – Description and Photo by Ong Jo-lene

 

Related articles and Reference:

How to make DIY: E-Photobook – A Sharing event

Public Talk And Presentation Of Do-It-Yourself E-Photobook
(2014)
___________________________________________

 

LI DAN AJI 2012 02 07 - 01

E-book or digital book has already become very famous as an open source media to spread ideas freely. The internet connection is one of many opportunities to make the ideas spreading more easier. All we need are just our ideas, computer as the main tool, and skills to make it happens.

Landscape Indonesia itself already use E-Photobook as a medium to share its activities, travel journal, and abundant of the Indonesian landscape picture, as creative works that somehow want to make its readers know more about Indonesia and how the lovely of their country.

However, how is the creative process happen? How far or how deep a person could explore and make a creative activity through this media? How are the maker steps to make his works still objective meanwhile the mission itself have persuasive content? and how are the steps to publish and distribute it?

Through a collaboration event between Forum NGI Regional Yogyakarta and Landscape Indonesia, they make a sharing event that talking about “DIY (Do It Yourself): E-Photobook”.  The event itself occurred on 7 February 2014 at the office of Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

Review Sharing DIY:E-Photobook, 7 Februari 2014
Writer: Ngaliman (freelance Jurnalis)
This review are in Indonesian Language and Had been published in as article at Forum NGI Regional Yogyakarta

(1) Travel Jurnal Oleh Wawies Wisnu 



Melakukan perjalanan dan sekedar jalan-jalan nampaknya akan biasa saja jika tidak ada dokumentasi tulisan, foto bahkan tak ada cerita yang dibagikan, setidaknya hal itulah yang membuat Wawies Wisnu ingin membagikan kisah perjalananya dalam bentuk Travel Jurnal. Selain hobi jalan-jalan dia juga seorang arsitek yang gemar dengan dunia literasi.

Membaca dan menulis kan cerita perjalanan adalah cara dia berbagi melalaui Travel Jurnal. Editor Landscape Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta ini selalu meluangkan waktu untuk berbagi ceritanya dalam bentuk tulisan perjalanan.

Sebenarnya budaya menulis perjalanan sudah ada sejak jaman ketika aksara ditemukan,sebut saja kisah-kisah leluhur yang ditulis para Empu, dalam bentuk syair,atau para orang pintar yang sedang menacari wawasan baru, dan menurut dia mengapa bukan kita? Niat adalah hal pertama kemudian ngumpulin modal, riset dan lakukan perjalanan, catat apa saja yang didapat dan edit tulisan kemudian publikasikan tulisan perjalanan kita itu di blog pribadi, media sosial atau dalam bentuk buku jika memungkinkan. paling penting adalah bersenang-senang dengan perjalanan kita.

Bahkan sekedar niat yang terencana tapi tidak mau melakukanya akan sia-sia rencana perjalanan kita, maka Nekad bisa jadi pemicu agar rencana terlaksana, nekad juga bukan harus tidak dipersiapakan segala hal yang dibutuhkan,tetap persiapkan beragam kebutuhan yang diperlukan dalam perjalanan. Perlengkapan disini adalah hal yang kita butuhkan tak perlu yang mahal, atau yang repot kita bawa, paling penting adalah peralatan yang mudah dan murah pokoknya nyaman kita bawa.

Modal atau biaya akomodasi masih menjadi bagian yang penting dan bagi sebagian orang biaya adalah hal yang membuat berpikir dua tiga kali jika ingin melakukan perjalanan, makanya ngumpulin modal adalah cara tepat, dengan jauh-jauh hari merencanakan perjalanan kemudian menabung sesuai anggaran yang kita butuhkan buat perjalanan.

Rencana perjalanan sudah terencana, biaya sudah dianggarkan dan disiapkan, perlengkapan sudah ada, maka segeralah mulai melakukan perjalanan,tetapi alangkah baiknya cari informasi tentang destinasi tujuan perjalanan, Riset kecil-kecilan nampaknya perlu dilakukan,
 Riset ini bisa menerapkan teori 5W+1H; pertama Tentukan tujuanya, kedua carilah informasi formal dan nonformal seputar destinasi tujuan perjalanan, cari informasi di dunia maya dan baca buku juga bisa menambah wawasan kita,Ketiga Catat dan tulis semua hal yang dirasakan atau ditemui, moment-moment unik yang terjadi. 5W+1H disini menurut Wawies Wisnu perlu ditambahin menjadi 5W+1H+S; What,who,when,why,where, how dan Sensasi. Kenapa sensasi nampaknya Wawies Wisnu ingin menjelaskan bahwa setiap perjalanan memang harus dinikmati, dan sensasi setiap pejalan berbeda walau destinasinya sama.Cinderamata, tiket kereta, tiket masuk tempat wisata, foto, atau benda-benda yang mendukung cerita perjalanan kita bisa di jadikan bahan tambahan yang menjadikan cerita perjalan lebih menarik.

Travel Jurnal adalah memorabilia yang menjadikan kenangan buat pejalan, cerita itu bisa disimpan dan dibagikan,ketika cerita dibagikan maka buatlah konsep dan bentuk yang bisa dinikmati juga oleh orang lain,sebuah scrapbook juga bisa dijadikan wadah membagikan cerita perjalan. blog pribadi, e-book bahkan buku cetak juga bisa dijadikan dokumentasi cerita perjalanan kita.

Dampak dari cerita perjalanan juga memiliki kelemahan dan kekuatan. Bahkan kisah inspiratif dari cerita yang kita sampaikan bisa berdampak bumerang,racun jalan-jalan dengan destinasi yang eksotis, petualangan yang menantang dan menga-syikan akan membuat siapapun tertarik dan ingin melakukan perajalanan. Namun disisi lain demam jalan-jalan, menjamurnya turis,eksploitasi lingkungan berlebih untuk industri pariwisata menjadikan destinasi perjalanan tereksploitasi.
Maka sebagai pejalan ketika menuliskan setiap unsur dan elemen porsi dan kekuatan yang sama sesuai tujuan dan misi artikel, setidaknya dampak positif dan negatif terhadap lingkungan harus dipahami pejalan.

Materi presentasi oleh Wisnu Wisdantio

(2) E-Photobook Oleh Kang Wahyu Widhi



Membuat catatan perjalanan dan dokumentasi foto menjadi sebuah buku? Kenapa tidak? Era digital memungkinkan kita untuk membuatnya demikanlah hal yang membuka peluang berkarya bisa lebih mudah dan murah. Dengan perkembangan era digital yang semakin maju sebuah buku tidak hanya sekedar dicetak dan dipublikasikan secara fisik. Dengan adanya blog, jejaring social, e-book, bahkan e-Photobook bisa kita buat dan distribusikan secara mudah dan murah.
Wahyu Widhi dari Landscape Indonesia kali ini menyampaikan materi yang pernah di sampaikan di FRAME (Fotokita Sharing Moment) Jakarta dan Sharing DIY:E-Photobook Solo. Dan di Yogyakarta Dia ingin berbagi materi tersebut dengan tambahan materi dari Wawies Wisnu di awal tentang Travel Jurnal, jadi kali ini memang dalam acara Sharing DIY:E-Photobook Forum NGI Regional Yogyakarta mendapatkan materi bonus dari Landscape Indonesia.

Kenapa dan bagaimana E-Photobook itu? Yang jelas dengan E-Photobook kita bisa membaca dan membagikan karya kita tanpa harus mencetak secara fisik sebuah buku. Karena ini buku elektronik yang memungkinkan dibaca dan dibawa kemana saja dimana saja, bisa di Smartphone, Handphone, Tablet, Laptop, Komputer atau perangkat digital lainya yang mendukung. Jadi lebih hemat bawaan dan tidak harus membawa buku fisik kemana-mana, cukup simpan filenya di perangkat kita.

E-Photobook ini juga bisa dijadikan Portofolio, Album Kenangan dan sharing pengalaman. Jadi kenapa tidak kita buat? Maka pertanyaan penting dari kang Wahyu Widhi adalah “Kenapa banyak buku bagus mengenai keindahan Indonesia dibuat oleh orang luar negeri?” hemm.. pertanyaan itu yang kemudian oleh Dia menjadi pemicu ketika LandscapeIndonesia.com ada dengan slogan “Meracuni..eh..menginspirasi betapa indahnya Indonesia ini”. Tapi karena membuat buku dan mencetaknya cukup menguras biaya, maka solusi yang ditawarkan LandscapeIndonesia.com adalah digitalisasi dalam bentuk E-Photobook dengan format PDF maka buku digital bisa dibawa dan dibaca siapa saja dimana saja dengan segala latarbelakangnya.

Pembuatanya juga tidak sulit, tetapi tetap tidak boleh dengan asal, karena ada proses bertahap walau tetap ide kreatif si pembuat buku digital bisa berkreasi dan mengekslorasi daya kreatifnya. Setidaknya ada beberapa tahapan pembuatan berikut ini;

1. Riset data
Penting disini dengan menerapka 5W+1H+F menurut kang Wahyu Widhia aka nada pertanyaan-pertanyaan yang mestinya bisa kita temukan solusinya agar ketika karya e-book atau e-photobook ini berhasil dibuat akan jelas bentuk,tujuan,konten dan macam ragamnya sesuai apa yang sudah direncanakan atau ada dalam gambaran kita. Setidaknya pertanya dibawah ini membantu kita dalam riset;

  • Apa tujuan kita membuat e-book atau e-photobook ini?
  • Siapa target pembaca e-book kita ini?
  • Formatnya bagaimana?
  • Bagaimana memmbuatnya?
  • Bagaimana akan mengunggah e-booknya
  • Poin 5W+1H ditambah F adalah penting ketika membuat e-photobokk, kenapa ada “F” disini,? “F” ini adalah “Foto”. Kenapa mesti foto? Ya karena foto penting kaitanya untuk bahan cerita dari e-photobook yang akan kita buat. Selain F adalah Foto maka F juga Fun.

Riset ini juga mirip dengan yang diuraikan Kang Wawies ketika membuat Travel Jurnal, sumber literasi online dan offline sangat diperlukan untuk menguatkan data di lapangan.

2. Aktivitas/Travelling
Aktivitas disini adalah langkah selanjutnya setelah kita peroleh data penguat sebelum melakukan aktivitas. Jalan-jalan begitulah kiranya. Dalam melakukan perjalanan kita harus rajin atau hal-hal unik kita coba gali. Langkahnya bisa dengan seperti berikut;

  • Mencari data; data apa saja yang kita perlukan
  • Backup data; usahakan data yang kita peroleh aman, contoh dokumentasi foto.
  • Dan yang terpenting ketika melakukan perjalanan maka “Enjoy Your Trip”

3. Olah data
Mengumpulkan foto dokumentasi selama perjalanan, memilih foto yang nantinya akan di jadikan bahan pembuatan e-photobook, edit foto-foto sesuai keperluan dan jangan lupa backup buat menjaga tetap aman file foto kita.

4. Produksi
Setelah data foto atau tulisan terkumpul maka mari berkarya. Kenapa ada tulisan juga? Karena tulisan atau catatan perjalanan seperti materi yang disampaikan kang Wawies akan lebih menarik juga sajikan dengan foto, komposisi foto dan tulisan tergantung kita, bisa banyak tulisan dengan selingan foto, atau foto banyak dengan tulisan-tulisan. Yang jelas pembaca yang kita targetkan atau segmen pembaca yang kita sudah tau akan mempermudah bagaimana kita membuatnya.  Yang dengan foto orang akan tertarik, banyak orang yang sudah tau cerita ketika melihat gambar, tapi bukan berarti tidak perlu tulisan. Oke bagaimana membuat e-photobook ini?

  • Software pendukung ; Photoshp, Indesign,Illustrator, Corel Draw, Lightroom, Powerpoint, MS Word atau software lain yang kita bisa atau teman kita bisa.
  • Aplikasi Mobile di smartphone juga ada yang sudah bisa contoh pada smartphone Android ada; Photobook Creator, Photobook Picture Album, Scrap! Photobook Maker Free dan Tin Tint Photobook.

Ketika software sudah ada maka bersegeralah membuatnya, ketika kita tidak bisa, maka kenapa tidak teman yang bisa kita ajak berkreasi membantu kita, bagaimana kalau kita tidak bisa dan tidak ada teman? Hemmm… maka carilah teman dan perbanyak teman. Tapi lebih penting adalah kita belajar, toh ini wahana buat berkarya dan berbagi.

5. Distribusi
Setelah karya e-photobook atau e-book kita sudah jadi, terus mau diapakan? Ya mari dibagikan. Caranya mudah dan murah, karena tak perlu harus mencetaknya. Cukup kita bagikan di dunia maya dan pembaca kita kasih link dimana pembaca bisa membaca dan mengundu karya kita tersebut.
Saat ini banyak penyedia jasa di internet yang memudahkan kita. Bisa dibagkan di blog atau website pribadi, file server sharing seperti mediafire atau filesonic, bahkan ada free ebook website yang bisa kita manfaatkan untuk membagikan karya kita, seperti scribd.com dan isssu.com.

6. Promosi
Setelah karya kita sudah terdistribusi atau sudah terpajang maka bagaimana agar teman, saudara, orang tua dan pembaca yang lain bisa mengaksesnya? Lakukanlah promosi. Dan promosi ini juga mudah dan murah. Ada facebook, twitter, blog pribadi, email dan SEO atau yang lainya yang memungkinkan karya kita bisa dibagi ke siapa saja. Selain dengan cara online kita juga bisa berpromosi dengan cara offline. Dengan sharing, ngobrol, diskusi.

Sekiranya begitulah kiat dan pemaparan pembuatan e-photobook. MUDAH bukan? Dan jangan tidak dicoba bahkan di bagikan karya kita ya. Karena berbagi bisa menambah rezeki. Kang Wahyu Widhi yang gemar jalan-jalan juga member pengetahuan tentang kenapa jalan-jalan dan profesinya sebagai fotografer bisa membuat dia tetap bisa menikmati hidup. Karena salah satunya adalah jangan sungkan sharing dan tetap berkarya.

Materi presentasi oleh Wahyu Widhi

Public Discussion – Pergerakan: Warga Berdaya dan Yogyakarta yang sumpek

Public Discussion Of City Public Spaces Management
(2013)
___________________________________________

 

Poster Diskusi Publik

The focus of this discussion is the development and the rapid growth of the Yogyakarta city at the present time which has a major impact on the functional specialization of public space. Public Space Regulation and management became the starting point to maintain and develop the functional integration of the city’s public spaces.

It refers to the function of public space as the primary interaction connector between its citizen, which are also reflected in the culture of Yogyakarta city. The city regulation and management that neglect the function of the public space may lead restlessness of the people who really care about the development of their city.

This discussion talking about “Warga Berdaya” movements that were performed to criticise the government policies about regulation and management of public space in Yogyakarta. “Warga Berdaya” with various ways of direct actions in the public space demanded treatment and development of abandoned infrastructure.

Friday, May 10, 2013
Rumah IVAA (Indonesia Visual Art Archive) | Jalan IREDA, Gang Hiperkes 188 A / B
Panelist:
– Yoan Vallone – (Activists of Bicycle Community)
– Elanto Wijoyono – (Cultural Heritage Observer)
– Andrew Lumban Gaol – (Street Artist)
– Wawies Wisnu Wisdantio – (Architect)
Moderator: Yoshi Fajar Kresno Murti

Short version of video documentation on arsip IVAA

Full version of video documentation on arsip IVAA

Photo Documentation from other sources:

The Event on articles and news:
Tata Ruang Kota Jogja Bakal Dikritisi Seniman & Praktisi – Harian Jogja Online
Diskusi Publik – Pergerakan: Warga Berdaya Dan Yogyakarta Yang Sumpek (1) – Jogjanews.com
Diskusi Publik – Pergerakan: Warga Berdaya Dan Yogyakarta Yang Sumpek (2) – Jogjanews.com

Related Videos (no subtitles):
Serangan Umum Satu Maret, Rebut Ruang Kota Jogja! – youtube
Merthi Kutho #2: Serangan Umum Satu Maret – Rebut Ruang Kota Jogja –  arsip IVAA – youtube